Fatwa MUI mengenai Sabung Ayam

Fatwa MUI mengenai Sabung Ayam, Majelis Ulama Indonesia atau MUI adalah sebuah lembaga swadaya yang mewadahi pembinaan ulama, zu’ama, dan cendikiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia.

Fatwa MUI mengenai Sabung Ayam

MUI berdiri sebagai hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zu’ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air, antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama yang mewakili 26 Provinsi di Indonesia pada masa itu, 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan Al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan. Dari musyawarah tersebut, dihasilkan adalah sebuah kesepakatan untuk membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama. zuama dan cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah “Piagam Berdirinya MUI,” yang ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian disebut Musyawarah Nasional Ulama I.

Tujuan dari pendirian Majelis Ulama Indonesia antara lain :

  • memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat Islam Indonesia dalam mewujudkan kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala;
  • memberikan nasihat dan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada Pemerintah dan masyarakat, meningkatkan kegiatan bagi terwujudnya ukhwah Islamiyah dan kerukunan antar-umat beragama dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa serta;
  • menjadi penghubung antara ulama dan umaro (pemerintah) dan penterjemah timbal balik antara umat dan pemerintah guna mensukseskan pembangunan nasional;
  • meningkatkan hubungan serta kerjasama antar organisasi, lembaga Islam dan cendekiawan muslimin dalam memberikan bimbingan dan tuntunan kepada masyarakat khususnya umat Islam dengan mengadakan konsultasi dan informasi secara timbal balik.

Salah satu bagian dari pembinaan yang dilakukan oleh MUI adalah pembuatan Fatwa. Fatwa adalah sebuah istilah mengenai pendapat atau tafsiran pada suatu masalah yang berkaitan dengan hukum Islam. Fatwa sendiri dalam bahasa Arab artinya adalah “nasihat”, “petuah”, “jawaban” atau “pendapat”.

Bagaimana Fatwa MUI mengenai Sabung Ayam?

Sabung Taji/Sabung Ayam yang selama ini dianggap sebagai sebuah hobi mengadu ayam jantan sejak jaman leluluhur kita tidak lepas dari kontroversi mengenai halal dan haramnya memainkan permainan tersebut. Beberapa kalangan beranggapan bahwa sabung ayam haram karena mengandung unsur perjudian juga penyiksaan terhadap binatang. Sedangkan kalangan lainnya beranggapan bahwa sabung ayam sah-sah saja, karena mengandung usur seni budaya, dan sudah dilakukan sejak jaman dahulu di berbagai daerah di Indonesia.

Menanggapi perdebatan ini, MUI sebagai sebuah lembaga keagamaan turun tangan dengan mengeluarkan Fatwa mengenai Sabung Ayam ini.

Sabung Ayam Sah-sah saja asal tidak mengandung Unsur taruhan di dalamnya..

Mengadu binatang itu sah-sah saja jika tidak melakukan penyiksaan bagi binatang, merusak dirinya, menghilangkan nilainya, dan meninggalkan penyembelihannya bila binatang itu binatang yang perlu disembelih, serta meninggalkan manfaatnya bila binatang itu bukan binatang yang boleh disembelih.

Dan ketika dalam perlombaan itu terdapat unsur perjudian jelas hukumnya haram (Perjudiannya bukan adu ayam nya). Pengertian judi itu sendiri adalah dua orang atau lebih saling berlomba dan setiap orang yang mengikuti perlombaan itu harus mengeluarkan sejumlah uang (atau barang) sebagai ganti atau biaya pendaftaran.

Jadi sudah jelaskan mengenai Bagaimana Fatwa MUI mengenai Sabung Ayam? mudah-mudah artikel ini bermainfaat bagi anda semua yang masih bingung mengenai sabung ayam jika dilihat dari sisi agama.